Mengapa Perusahaan Gagal Membangun Budaya?

Peristiwa The Global Financial Crisis (GFC) yang terjadi beberapa tahun lalu menimbulkan banyak perubahan dalam peta bisnis dunia. Kebangkrutan sebuah bank investasi terbesar keempat AS September 2008 dituding sebagai pemicu penyebab kegoncangan finansial global tersebut. Hal itu kemudian seolah membuka mata dunia bahwa beberapa perusahaan terbesar itu ternyata tidak lebih dari penipu yang membohongi investor, nasabah, dan masyarakat dunia. Karena itulah pentingnya budaya perusahaan (corporate culture) yang berlandaskan etika dan moral makin dirasakan penting.

Namun saat ini masih banyak perusahaan yang gagal membangun budaya perusahaannya. Prof Richard Barret mengidentifikasi beberapa sebab kegagalan tersebut, pertama, perusahaan tidak mendefinisikan visi, misi, dan nilai perusahaannya. Kedua, tim manajemen telah merumuskan visi, misi, dan nilai perusahaannya namun tidak dishare kepada seluruh karyawannya. Ketiga, visi, misi, dan nilai perusahaan telah dirumuskan dan disebarkan pada karyawan tapi, mereka tidak merasa memiliki visi, misi, dan nilai perusahaannya. Para karyawan tidak diberi kesempatan untuk memberi masukan atau berpartisipasi dalam proses perumusannya. Keempat, visi, misi, dan nilai perusahaan telah dirumuskan, dan ‘dimiliki’ karyawan, namun tidak terintegrasi dengan sistem, prosedur, atau praktik organisasi.

Visi, misi, dan nilai sangat pen­ting dalam pembangunan budaya perusahaan. Visi menjelaskan arah dan tujuan perusahaan, misi menjelaskan apa yang akan dilakukan, sedangkan nilai menjelaskan perilaku yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam menjalankan misi dan untuk mencapai tujuan. Dengan kata lain, Visi menyatakan alasan mengapa Anda bekerja (“why” you are doing this work) dan mau ke mana Anda, Misi menyatakan apa yang Anda kerjakan (“what” work you are doing), Values menyatakan bagaimana cara bekerja (“how” the people will work).

Banyak perusahaan yang telah merumuskan visi, misi, dan nilainya, namun gagal sehingga mengalami kebangkrutan. Hal itu disebabkan visi, misi, dan nilai hanya ada pada tataran konsep tanpa implementasi, hanya menjadi pajangan dan tidak keluar menjadi perilaku (behaviour).

Kegagalan dalam membangun visi, misi, nilai perusahaan di antaranya: Pertama, visi, misi, nilai hanya disampaikan secara intelektual sehingga hanya menjadi “knowledge”. Kedua, visi, misi, nilai tidak dikaitkan dengan keyakinan individu. Ketiga, karyawan tidak merasakan adanya keselarasan (alignment) antara visi, misi, nilai pribadi dan perusahaan.

Oleh karena itu, visi, misi, nilai tidak cukup dirumuskan secara intelektual (IQ) namun harus dikomunikasikan dan ditanamkan juga secara emosional (EQ), dan spiritual (SQ). Spiritualitas bertujuan agar visi, misi, dan value tersebut kepada belief system (system keyakinan) mereka. Menurut Prof. Barrett tujuan visi dan misi: secara Fisik menyediakan struktur pekerjaan, secara Emosional memberikan makna dan rasa kebanggaan, secara Mental dasar untuk pengambilan keputusan, secara Spiritual kejelasan untuk manifestasi.

Diagram di atas menunjuk­kan bahwa:

Jika nilai dan keyakinan individu selaras (align) dengan perilaku individu, maka disebut Personal Alignment. Contoh: orang yang memiliki nilai kejujuran dan senantiasa sesuai antara hati, ucapan, dan perilakunya.

Jika nilai dan kepercayaan perusahaaan selaras dengan perilaku kelompok maka disebut Structure Alignment.
Contoh: perusahaan yang memiliki nilai integritas, transparan, terbuka, hal itu sejalan dengan sistem di perusahaan sehingga Good Corporate Go­vernment pun dijalankan.
Jika nilai dan keyakinan individu selaras dengan nilai dan kepercayaan perusahaan dinamakan Values Alignment.

Contoh: si A adalah karyawan yang jujur bekerja di perusahaan yang menjunjung tinggi kejujuran.
Jika perilaku individu selaras dengan perilaku kelompok dinamakan Mission Alignment.
Contoh: perusahaan yang memberikan penghargaan bukan hanya pada kinerja atau performance tapi kejujuran juga dinilai sehingga ada Key Value Indicator (KVI).

Budaya perusahaan yang positif dan kuat dapat dibentuk hanya jika nilai-nilai dan perilaku bersamaan secara struktural diintegrasikan ke dalam sistem sumber daya manusia, khususnya proses evaluasi pribadi. Proses-proses berbasis nilai evaluasi kinerja dan ‘kebijakan mempekerjakan’ sangat penting untuk mengembangkan budaya kuat dan positif.

Paparan di atas makin memperjelas pentingnya keselarasan antara visi, misi, nilai Pribadi dan Perusahaan. Hal itulah yang menentukan apakah perusahaan akan bertahan atau hancur. Menurut Peter Drucker, apabila berbicara tentang manajemen dan bisnis sesungguhnya berbicara tentang perilaku manusia.•

Advertisements
By aryginanjaresq Posted in Tulisan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s