Transformasi Budaya Perusahaan, Transformasi Individu

Kehancuran beberapa perusahaan dunia yang diakibatkan berbagai pelanggaran moral dan etika, menyebabkan gelombang kesadaran akan pentingnya budaya perusahaan. Karena itulah sejak satu dekade lalu, disebut sebagai Era Kesadaran (Consciousness Age). Korporasi tidak bisa lagi ha­nya mengandalkan kekuatan intelektual, namun mulai menya­dari pentingnya modal budaya (Cultural Capital).

Tentu masih lekat dalam ingat­an kita, tepat 10 tahun lalu Enron, salah satu perusahaaan energi ter­besar AS, dinyatakan telah me­­rekayasa laporan keuang­an. Bukan hanya perusahaannya yang ke­mudian bangkrut, bahkan kehidup­an beberapa petinggi En­ron pun berakhir tragis. Clifford Baxter, wakil komisaris utama, bunuh diri dengan cara menembak kepala di dalam mobil di depan rumah mewahnya di Houston. Kenneth Lay, CEO Enron, meninggal terkena se­rang­an jantung di villanya di Aspen sebelum menjalani masa hukumannya.

Hanya enam minggu setelah terkuaknya kasus Enron, perusahaan telekomunikasi terbesar kedua di AS, WorldCom, menyatakan telah menggelembungkan laba 3,8 milyar dollar AS. Sang CEO, Bernard Ebbers (63), akhirnya dinyatakan bersalah atas skandal akuntansi terbesar dalam sejarah AS itu dengan 9 tuduhan. Pada September 2006, Ebbers mengemudi Mercedesnya sendiri ke penjara untuk menjalani hukuman hingga tahun 2028.
Sehari setelah WorldCom, perusahaan raksasa lain, Xerox, juga mengumumkan akan mengo­reksi laporan keuangan mereka yang melebihkan keuntungan sam­pai US$ 6,4 miliar dalam lima tahun terakhir. Menyusul perusahaan lain seperti ImClone System, Adelphia Communications, dan Tyco International, yang juga mengaku telah melakukan kesalahan.

Tahun-tahun awal 2000-an seakan menjadi kuburan massal perusahaan besar akibat manipulasi keuangan yang mengakibatkan kepercayaan para investor berada di titik terendah.

Hal-hal di atas yang kemudian melahirkan Era Kesadaran bahwa makin dirasakan pentingnya etika dan moralitas dalam dunia bisnis. Yang menarik, saat ini penilaian saham bukan hanya pada asset perusahaan, namun justru lebih pada budaya perusahaan. Prof. Barret mengatakan bahwa saat ini modal cultural atau intangible drivers menempati porsi 60 hingga 85%, sedangkan modal finansial atau tangible drivers hanya 40-15% dari nilai saham.

Pertanyaannya, bagaimana cara melakukan sebuah transformasi budaya perusahaan? Prof. Richard Barrett dalam “Liberating The Corporate Soul” menyatakan “Organization do not transform. People do.” Artinya bahwa korpo­rasi tidak dapat bertransformasi namun orang-orang di dalamnya yang seharusnya melakukan sebuah transformasi. Dengan kata lain transformasi budaya perusahaan harus diawali dengan transformasi individu di dalamnya khususnya para pemimpinnya.

Yang dimaksud dengan transformasi individu adalah bagaimana mengubah value atau nilai dan behaviour atau perilaku seseorang. Value menurut Barrett merefleksikan motivasi serta hal-hal yang dianggap penting oleh individu dan kelompok.

Mengapa value atau nilai pribadi individu dapat mengakibatkan transformasi perusahaan? Pada bagan berikut ini tampak bahwa value dan belief (keyakinan) individu mempengaruhi karakter dan perilaku individu. Selanjutnya karakter dan perilaku individu akan mempengaruhi value dan belief kelompok, inilah yang dinamakan budaya perusahaan. Budaya perusahaan pada akhirnya akan mempengaruhi perilaku kelompok atau struktur sosial.

Agar transformasi individu dalam perusahaan berjalan, maka para pemimpin atau leader harus menjadi role model dari nilai-nilai yang telah disepakati itu. Seorang leader sesungguhnya contoh hidup dan berjalan dari value itu sendiri. Akan tetapi bila sang pemimpin melanggar nilai, pemimpin tidak bisa menjadi contoh dan secara otomatis menghancurkan budaya perusahaan yang dibangunnya sendiri. Meskipun menggunakan konsultan kelas dunia yang menghabiskan milyaran rupiah, tanpa contoh pemimpin, maka nilai perusahaan akan roboh.

Untuk memperkuat nilai harus ada penyelarasan (alignment) anta­ra: keyakinan, nilai, dan perilaku. Ibarat gunung es maka keyakinan itu berada pada lapisan bawah, di atasnya ada nilai, dan yang muncul ke permukaan adalah perilaku.

Kesalahan yang terjadi selama ini adalah leader hanya mengajarkan perilaku tanpa menanamkan nilai dan keyakinan akibatnya terjadi keterbelahan antara keyakin­an, nilai, dan perilaku.
Oleh karena itu, diperlukan dimensi spiritual (SQ) untuk membangun keyakinan, yang harus selaras dengan dimensi emosi (EQ) untuk membangun nilai, dan IQ untuk membangun KPI (Key Performance Indicator). Key Value Indicator (KVI) diperlukan untuk memantau nilai dan KPI sebagai output dari perilaku. Karena muara dari semua ini adalah performance yang terukur.

Dipersembahkan oleh: ACT Consulting
Jl. Ciputat Raya No. 1B Pondok Pinang Jakarta Selatan 12310
Telp. (021) 7696654 Fax. (021) 7696645
Email: act.consulting@esqway165.com

Advertisements
By aryginanjaresq Posted in Tulisan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s