Mengukur Entropi Budaya

Oleh: Dr. HC Ary Ginanjar Agustian (Corporate Culture Consultant)

Entropi budaya sa­ngat merugikan ka­re­na menurunkan kinerja atau per­for­ma sebuah organisasi. Fenomena entropi bisa muncul di manapun, bisa di sebuah organisasi, perusahaan, ins­tansi, atau bahkan negara. Entropi biasanya diukur dalam bentuk prosentasi. Misalnya en­tropi budaya di sebuah pa­brik sepatu adalah 50%, ma­ka pabrik yang seharusnya menghasilkan 100 pasang sepa­tu setiap hari menjadi hanya 50 pasang perhari karena adanya entropi budaya tersebut.

Entropi budaya —sebagai­mana sudah dijelaskan dalam tulisan terdahulu— adalah ener­gi yang terbuang di tem­pat kerja untuk hal yang ti­dak produktif. Entropi bisa di­sebabkan oleh beberapa hal di antaranya ketidakjelasan visi sehingga tidak jelas arah yang dituju oleh individu-individu yang berada dalam organisasi. Keti­dakjelasan misi menim­bulkan ketidakjelasan apa yang harus dilakukan. Ketidakjelasan ni­lai membuat tidak jelasannya perilaku mana yang harus dilakukan dan mana yang ti­dak boleh dilakukan karena orga­nisasi tidak memiliki pe­do­man perilaku. Tidak me­mi­liki makna membuat karyawan tidak mengerti arti dan makna keberadaan organisasi dan keberadaan dirinya da­lam organisasi tersebut. Entro­pi budaya dalam se­buah organisasi juga akan cenderung meningkat dengan adanya birokrasi yang berbelit, kontrol dan kehati-hatian yang berlebihan, saling tidak percaya, saling menya­lahkan, kompetisi internal, dan ketidakjujuran.

Entropi budaya umumnya berada pada kisaran 5 sampai 55%. Tabel di bawah menunjukkan rentang entropi dan risiko yang dihadapinya.

Bagaimana mengatasi tim­bulnya entropi budaya dalam perusahaan? Barrett Value Center yang sudah berpengalaman mengukur entropi di ribuan organi­sasi di berbagai negara, mengidentifikasi 4 keselarasan (alignment) yang diperlukan untuk mengatasi entropi budaya yaitu:
Personal Alignment, yaitu keselarasan antar Nilai Pribadi (Personal Values) dengan Perilaku (Behaviour). Contoh orang yang memiliki nilai kejujuran sejalan juga dengan perilakunya.
Structure Alignment, yaitu keselarasan antara Nilai Perusahaan (Corporate Values) dengan Sistem Organisasi (Organization System). Contoh perusahaan yang memiliki nilai integritas, transparan, terbuka, hal itu sejalan dengan sistem di perusahaan sehingga Good Corporate Government pun dijalankan.
Values Alignment, yaitu keselarasan antara Nilai Pribadi (Personal Values) dengan Perusahaan (Corporate Values). Contoh si A adalah karyawan yang jujur bekerja di perusahaan yang memiliki budaya kerja Integritas dan dalam pelaksanaannya menjunjung tinggi kejujuran.
Mission Alignment, yaitu keselarasan antara Perilaku (Behaviour) dengan Sistem Organisasi (Organization System). Contoh perusahan yang memberikan penghargaan bukan hanya pada kinerja atau performance tapi kejujuran juga dinilai sehingga ada Key Value Indicator (KVI).
Keselarasan pada keempat kuadran di atas sangat diperlukan untuk mengatasi entropi budaya. Budaya perusahaan yang positif dan kuat dapat dibentuk hanya jika nilai-nilai dan perilaku bersamaan secara struktural diintegrasikan ke dalam sistem sumber daya manusia, khususnya proses eva­luasi pribadi.

Dalam risetnya Barrett menemukan bahwa dalam organisasi dengan ‘engagement’ karyawan lebih dari 65 persen dan entropi di bawah 10 persen, maka pertumbuhan pendapatan 35 persen selama periode tiga tahun. Sebaliknya Organisasi dengan skor engagement dalam kisaran 40-65 persen dan entropi lebih besar dari 22 persen memiliki pertumbuhan tiga tahun pendapatan hanya 7 persen.

Pada Agustus 2008, penelitian dilakukan di Islandia, yang menunjukkan entropi (derajat ketidakteraturan) budaya di Islandia sangat tinggi lebih dari 54%. Ternyata sebulan kemudian Islandia mengalami kebangkrutan ekonomi.
Pengukuran entropi belum dilakukan di Indonesia baik di lingkup perusahaan maupun bangsa. Jika dilakukan, apakah kita siap mengetahui berapa prosentase entropi budaya di negara ini dan berapa kerugian yang ditimbukan akibat adanya entropi budaya tersebut.•

ACT Consulting
Jl. Ciputat Raya No. 1B Pondok Pinang, Jakarta 12310
Telp. (021) 7696654 Fax. (021) 7696645
Email: act.consulting@esqway165.com

Sumber: http://esq-news.com/2012/berita/02/21/mengukur-entropi-budaya.html
Tabel rentang entropi dan risiko yang dihadapi

Advertisements
By aryginanjaresq Posted in Tulisan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s