Employee Engagement dalam Budaya Perusahaan

Oleh: Dr. HC Ary Ginanjar Agustian (Corporate Culture Consultant)

Budi dan Sony be­kerja di sebuah per­usahaan yang sa­ma. Budi sa­ngat rajin bekerja, ia mende­dikasikan dirinya untuk mencapai tujuan perusahaan. Ia sangat termotivasi untuk melakukan pekerjaannya sebaik mungkin. Ia menambah jam ekstra di tempat kerja, dan berpikir tentang kontribusi terhadap perusahaan bahkan ketika tidak berada di tempat kerja. Sedangkan Sony sebaliknya, ia mengeluarkan energi seminim mungkin di kantor. Ia mengambil istirahat lebih panjang, menggunakan waktu kerja untuk surfing internet, atau melakukan apapun untuk menghentikan rasa bosan atau membuat waktu cepat berlalu.

Budi adalah contoh seorang karyawan yang memiliki engagement tinggi dengan perusahaan, sedangkan Sony engagement-nya rendah. Employee Engagement adalah se­buah wacana terkini yang berkembang di bidang human resource (HR) atau sumber daya manusia. Employee engagement merupakan kekuat­an yang mengikat antara perusahaan dan karyawan baik secara intelektual, emosional, maupun spiritual yang mampu mendorong karyawan melakukan kinerja optimal sehingga membuat perusahaan mampu mencapai tujuannya.

Employee engagement bersumber pada budaya perusahaan. Jim Ware dalam “Invest­ment Leadership” mengatakan bahwa korporasi dengan budaya lemah, dalam jangka waktu tiga tahun saja mengalami turn over karyawan hingga mencapai 50%. Sedangkan penurunan nilai asetnya mencapai 80%. Sedangkan budaya perusahaan yang kuat dalam jangka waktu yang sama turn over karyawannya 0% dan peningkatan asetnya mencapai 26%.

Apa yang menyebabkan karyawan tidak bertahan di perusahaan? Leigh Branham dalam “The 7 Hidden Reasons Employees Leave: How to Recognize the Subtle Signs and Act Before It’s Too Late” (2005) mengatakan bahwa lebih dari 85% manajer meyakini bahwa karyawan meninggalkan peru­sahaan karena mereka tertarik dengan gaji yang lebih besar atau kesempatan yang lebih baik. Namun, lebih dari 80% karyawan mengatakan bahwa faktor yang membuat mereka keluar dari perusahaan kare­na didorong oleh hal yang berkaitan dengan buruknya praktik manajemen atau racun budaya (budaya perusahaan yang lemah).

Seperti apakah perusahaan yang memiliki budaya perusa­haan kuat sehingga employee engagementnya tinggi? Mari ki­ta kembali mempelajari sebuah perusahaan yang meroket me­nuju puncak kinerja. Dialah Zappos, sebuah perusahaan ritel sepatu online, yang awalnya bahkan dipandang sebelah mata oleh investornya sendiri. Salah satu kunci kekuatan perusahaan tercatat sebagai salah satu dari 100 perusahaan terbaik versi Majalah Fortune adalah memiliki budaya perusahaan yang mengakibatkan karyawan sangat terikat de­ngan perusahaan.

Pembangunan budaya peru­sahaan Zappos dilakukan melalui serangkaian workshop dan tour di lingkungan perusahaan, agar karyawan dapat menyerap budayanya selama 5 minggu. Hal tersebut juga terbuka bagi siapapun bahkan pesaing sekalipun.

Setelah program pelatihan, Zappos menawarkan uang US$ 2.000 pada karyawan baru tersebut untuk berhenti, jika ia merasa tidak cocok dengan Zappos. Hal tersebut dilakukan untuk memastikan karak­ter karyawan sesuai dengan budaya perusahaan. Sungguh menarik bahwa jarang ada karyawan yang tergiur dengan uang tersebut kemudian me­ninggalkan Zappos. Menurut CEO Zappos Tony Hsieh, pada tahun 2007 ada 3% karyawan baru yang berhenti, 2008 ada 1% dan sejak 2009, tidak ada satu pun yang berhenti.

Menurut Tony dalam bukunya “Delivering Happiness”, secara berkala Zappos selalu mengukur kekuatan budaya perusahaan mereka melalui survey karyawan. Karyawan ditanya apakah mereka setuju atau tidak dengan pernyataan berikut:
Saya percaya bahwa peru­sahaan memiliki tujuan jauh lebih tinggi dari sekadar profit
Peran saya di Zappos me­miliki tujuan yang nyata, bukan sekedar sebagai tugas
Saya merasa bahwa saya mengalami kemajuan baik secara personal maupun profesional
Saya merasa rekan kerja saya seperti keluarga
Saya merasa sangat bahagia dengan pekerjaan saya
Demikianlah Zappos hing­ga meraih prestasinya berkat kekuatan budaya perusahaannya. Pada 2008 Zappos membukukan pendapatan US$ 1 miliar, padahal tahun 1999 nyaris sama sekali tidak ada keuntungan, dan tahun 2000 hanya US$1,6 juta. Hal unik lainnya di Zappos, para kar­yawannya menuliskan budaya Zappos sesuai dengan persepsi dan peng­alaman mereka, tanpa diedit oleh Tony Hsieh sebagai CEO, dan akan dikompilasi menjadi Zappos Book of Culture yang diterbitkan hampir setiap tahun. Buku ini menjadi salah satu bukti betapa tingginya employee engagement Zappos.

Pentingnya employee engagement tidak hanya pada perusahaan swasta, namun perusahaan negara (BUMN) juga instansi pemerintahan, bahkan organisasi. Employee engagement yang tinggi membuat seseorang sangat termotivasi dalam bekerja serta memiliki komitmen, antusias, dan bersemangat.

Employee engagement mem­buat seseorang merasa ke­beradaannya dalam organi­sasi/perusahaan bermakna untuk kehidupan mereka hingga menyentuh tingkat terdalam yang pada ujungnya akan meningkatkan kinerja perusahaan atau organisasi.•

ACT Consulting
Jl. Ciputat Raya No. 1B Pondok Pinang, Jakarta 12310
Telp. (021) 7696654 Fax. (021) 7696645
Email: act.consulting@esqway165.com

Advertisements
By aryginanjaresq Posted in Tulisan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s