Pegas dan Bola Tenis

“Laksana menekan sebuah per atau pegas sedalam-dalam lalu Anda meletakkan sebuah bola tenis, kemudian Anda lepaskan pegas itu, niscaya bola tenis diatasnya itu akan melambung jauh tinggi ke atas'”.

Itulah kesimpulan wawancara sejauh ini yang saya peroleh terhadap beberapa orang-orang istimewa dalam rekaman acara Leader With Character untuk Ramadhan Metro TV nanti.
Sebut saja Sugiharto mantan meneg BUMN yg pernah jadi Kondektur Bus Kota, atau Mas Mono ” Ayam Bakar “yg pernah tidur berlas kardus, atau Opick ” Tombo Ati ” yang pernah menjadi pengamen di stamplat bus, atau Hendi ” Kebab Baba Rafi ” yang pernah mendorong gerobak sendiri sambil kuliah di kampus, atau Parni Hadi ” wartawan top senior pendiri Dompet Dhuafa yang pernah berjalan 7 km setiap hari ke sekolah tanpa sepatu serta harus menapaki aspal panas, atau Dahlan Iskan anak seorang buruh tani yang sangat miskin.

Begitulah cara Tuhan melejitkan mereka, seperti meluncurkan sebuah anak panah, tariiiiiiik, tahaaaaan. Lepas ! Ziiiiiiiiiiiiing !
Akan tetapi kebanyakan kita tidak mau menerima ketika DIA menekan kita di atas sebuah pegas, atau kita tidak mau menerima ketika kita menjadi “anak panah ” yg dijepit diantara dau jari dengan keras, lalu ditekan tali busur oleh “Sang Pemanah”.
Kita malah marah-marah kepada “Sang Pemanah”, atau menangis tersedu-sedu sambil meratapi nasib, sambil berkata : ” Oo malangnya nasibku “.
Atau mereka berkata : ” Aku sedang Galau , Tuhan tidak adil !”.

Saudaraku yang disayang Allah,
Umumnya mereka yg berhasil adalah mereka yang mau menerima tekanan dan jepitan kehidupan dengan sabar dan tawakkal akan tetapi mereka tidak diam.

Mereka memanfaatkan “enegi kinetik” yang mereka peroleh, memanfaatkan energi pegas yg mereka rasakan, memanfaatkan energi tali busur yang ia manfaatkan. Lalu mereka bertekad untuk berubah, dan keluar sebagai pemenang. Setelah itu melejitlah mereka semua ke angkasa, laksana Kembang Api yang ditembakkan ke langit dan menghiasi malam dengan warna warni yang indah.

Akan tetapi sebaliknya, orang yang kalah adalah orang yg terus meratapi nasib ketika terjepit dan ketika tertekan. Dan ketika pegas dilepas, atau busur dilepas, maka “bola tenis atau anak panah” itu malah turun perlahan lahan sambil menangis bercucuran air mata, kemudian setelah turun, ia kejepret sekali lagi lagi oleh tali busur, lengkap dan sempurnalah penderitaannya.

Jadi sesungguhnya keberhasilan atau kesuksesan itu adalah sebuah pilihan. Pilihan atas reaksi diri kita sendiri, meratapi, dan turun pelan-pelan dari pegas atau busur sambil marah, kecewa, dan sedih, atau melenting dan melompat depan dan ke atas !
Itulah kehidupan, kita harus selalu melihat jauh ke depan, dan melihat diri kita dalam sebuah serial film yg bersambung, dan akhirnya jagoan yang menang. dan Andalah jagoan itu.

” Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
Maka apabila kamu telah selesai ( dari satu pekerjaan ),
Kerjakan dengan sungguh-sungguh urusan yang lain,
Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap ”
( QS. Al – Insyirah 5-8 )

Jakarta 30 Mei 2012

Salam 165

Ary Ginanjar Agustian

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s