Petikan Wawancara Majalah Biskom edisi April 2012

Dimulai dari sebuah buku yang ditulis pendirinya, “ESQ: Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi & Spiritual”, kini ajaran dan inspirasi ESQ sudah dikenal dunia. ESQ kini juga menjadi lembaga training yang tujuannya membangun karakter bangsa menjadi lebih baik.

Krisis ekonomi di tahun 1998 yang dibarengi dengan adanya kerusuhan di penjuru tanah air memang meninggalkan kenangan pahit yang tidak terlupakan. Mereka-mereka yang terkena dampak langsung dari peristiwa ini adalah sebagian besar pengusaha, karena bisnis yang mereka bangun selama ini hancur seketika karena terjadinya penjarahan di mana-mana.

Namun, peristiwa ini memberikan hikmah tersendiri bagi sebagian orang, termasuk kepada Ary Ginanjar Agustian yang mulai merenung, lalu menuliskan sebuah buku berjudul “ESQ: Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi & Spiritual”, setelah bisnisnya hancur dan hilang.

“Sejak peristiwa itu saya mulai merubah pola berfikir. Yang awalnya mindset hanya ke uang saja, lalu mulai sadar bahwa sesungguhnya kebahagian itu bukan terletak pada uang. Dari situlah saya mulai menulis buku setelah semuanya hancur dan hilang,” ujar Ary Ginanjar, yang kemudian hari dikenal sebagai pengagas dan pendiri training Emotional Spiritual Quotient (ESQ).

Mantan dosen Politeknik Udayana, Bali yang juga beberapa kali menerima penghargaan karena integritasnya didalam menjalankan ESQ ini mengaku, melalui buku-buku yang dipelajari, perenungan mendalam serta pengalamannya tersebut, akhirnya bisa menyampaikan gagasan melalui buku yang ditulisnya. Di dalam bukunya dijelaskan bahwa untuk mencapai keberhasilan, kecerdasan intelektual (IQ) saja tidak cukup. Diperlukan kecerdasan emosional (EQ) yang akan memberikan keterampilan dalam bersosialiasi dan berhubungan dengan orang lain, serta kecerdasan spiritual (SQ) yang akan memberikan jawaban atas eksistensi diri. Untuk menggabungkan ketiga kecerdasan tersebut, Ary Ginanjar merancang sebuah konsep yang disebutnya The ESQWay165, yaitu sebuah konsep pembangunan karakter yang komprehensif dan integratif berdasarkan 1 nilai universal, 6 prinsip pembanguan mental dan 5 langkah aksi.

Menurut pria yang telah berkecimpung di dunia bisnis selama lebih dari 20 tahun ini, untuk menyampaikan konsep tersebut secara lebih efektif, ia merancang metode training yang menggunakan teknologi tinggi dan multimedia modern.

Lembaga training ini dikenal dengan nama ESQ Leadership Center yang belum lama ini juga telah meresmikan Menara 165 yang dibangun sebagai pusat kegiatan ESQ. Sampai saat ini, jumlah trainer ESQ yang mendapatkan lisensi dari Ary Ginanjar sudah mencapai hampir 100 orang. Mereka telah mendapatkan pembinaan dan pendidikan secara sistematis melalui rangkaian training dengan sistem mentoring, computer based training (CBT), dan sebagainya.

“ESQ dibangun secara mandiri dan independent, tidak ditopang oleh lembaga manapun atau pengusaha siapapun, tetapi didukung oleh para alumni ESQ yang peduli melalui saham dan wakaf. Semoga semangat dan upaya membangun moral bangsa ini tetap terjaga melalui Menara 165 sebagai warisan untuk generasi mendatang,” harapnya.

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang ESQ yang dibangun oleh Ary Ginanjar, berikut petikan wawancara BISKOM di tempat kerjanya, baru-baru ini.

Bisa dijelaskan apa itu Emotional Spiritual Quotien (ESQ) dan apa yang bisa kita dapatkan dari ESQ ini?

Training ESQ bukanlah sebuah ceramah agama seperti informasi yang mungkin pernah diberitakan. Meski banyak mempergunakan ayat-ayat Al-Qur’an, training ESQ sesungguhnya adalah sebuah konsep baru training manajemen dan sumber daya manusia yang mensinergikan kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ) secara ilmiah. Training ESQ akan menciptakan manusia-manusia unggul dan paripurna yang bermanfaat, baik untuk pribadi maupun kepentingan kinerja perusahaan secara transendental.

Beragamnya orang yang mengikuti training ESQ karena materi dan metode yang diberikan dapat diterima oleh semua kalangan. Tak mengherankan jika dalam sebuah training, kita akan menemui orang-orang yang memiliki latar belakang sosial, politik, dan budaya yang berbeda.

Kami menempatkan ESQ sebagai oksigen. Kehadirannya netral dan tak berwarna tetapi sangat penting bagi kehidupan. Kami tidak berafiliasi dengan kelompok, golongan, dan aliran tertentu.

Kami hanya ingin mewujudkan Indonesia Emas 2020 bersama-sama dengan komponen bangsa lainnya, berdasarkan Pancasila dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yaitu terwujudnya masyarakat Indonesia yang berhati emas.

Apa visi dan misi dari ESQ?

ESQ memiliki misi membangun moral bangsa dengan konsep 165. Konsep 165 adalah sinergi dari nasionalisme dengan spiritualisme, antara dasar negara Pancasila yang lahir pada 1-6-45 dan semangat cinta tanah air dengan spiritualitas dan moralitas , yaitu 1 hati, 6 prinsip, dan 5 langkah.

Misi kami adalah kebangkitan moral bangsa dan pembentukan karakter bangsa dengan tujuh nilai dasar. Ketujuh nilai dasar itu adalah: jujur, tanggung jawab, visioner, disiplin, kerjasama, adil, dan peduli. Untuk mewujudkan misi di atas, ESQ membentuk wadah yang independen dan profesional. Visi ESQ adalah terwujudnya Indonesia Emas. Yaitu, kondisi ketika ketujuh nilai dasar telah menjadi budaya di seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

Selain ESQ, kita mengenal IQ, apa bedanya?

Selama ini kalau kita lihat jenjang pendikan mulai dari SD, SMP, SMA bahkan sampai kuliah, yang dinilai itukan hanya indek prestasi, angka raport maupun ranking. Artinya, otak kiri saja atau kecerdasan intelektual yang digunakan oleh mereka. Padahal, menurut riset membuktikan bahwa orang berhasil itu memiliki IQ yang hanya berperan sekitar 10-20 persen saja, dimana ada 80 persen lagi yang belum dibangun atau disentuh. Sehingga yang lahir adalah orang yang berintelektual cerdas tetapi tidak punya kecerdasan emosi dan spiritual. Jadi dia tidak mampu memahami perasaan diri, orang lain maupun mendengar nuraninya sendiri. Akibatnya yang terjadi adalah manusia yang dikatakan split personality, yaitu otaknya cerdas tapi nuraninya kosong.

Nah, disinilah ESQ berkeinginan mengisi yang 80 persen kecerdasan itu, yaitu kecerdasan emosi, yang merupakan kemampuan untuk memahami tentang pergaulan lingkungan, dan kecerdasan spiritual, untuk mendengar nuraninya sendiri. Ketika itu digabungkan, maka lahirlah manusia yang memiliki keseimbangan antara otak, akal dan hatinya, secara otomatis akan melahirkan karakter. Bukan hanya karakter basa-basi atau sekedar tata karma, namun memiliki nilai yang dipegang teguh di dalam hatinya.

Bagaimana cerminan orang berhati emas yang Anda ingin wujudkan di 2020 nanti?

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, jadi berhati emas ini kami definiskan menjadi 7 hal, yaitu pertama, Indonesia yang jujur, jujur itu tidak korupsi dan berbohong. Kedua, Indonesia yang tanggung jawab, jadi pekerjaan apapun dia amanah dan mengerjakan tugasnya dengan jujur tapi amanah. Ketiga, visioner yaitu tidak berfikir hanya untuk hari ini saja tetapi berfikir akibat kedepannya. Keempat, Indonesia yang disiplin, bukan hanya sekedar absensi tetapi disiplin dengan visinya, cita-citanya, kejujurannya serta tanggung jawabnya.

Lalu kelima, kerjasama yang berarti dia senantiasa bekerja bersama-sama dan gotong royong atau bersatu. Keenam, manusia yang adil, dimana kebersamaan itu dipersatukan dan dijaga dengan keadilan agar tetap terjaga nilai-nilai keadilan. Dan terakhir, ketujuh adalah peduli, dimana kelompok yang kuat membangun yang lemah, kaya membantu yang miskin dan yang kuat membantu yang tidak mampu.

Inilah yang kami sebut juga 7 budi utama yang coba kami angkat kepermukaan karena dianggap penting dan utama. Mengapa? Karena selama ini orang menganggap utama kalau dia punya harta banyak, jabatan tinggi maupun kekuasaan hebat. Kami ingin membalik hal itu, minimal paradigma yang disebut utama itu jika bermoral tujuh tadi.

Siapa saja kalangan yang harus mengikuti ESQ ini?

Saya ambil dari semua lapisan, tapi yang pertama kami incar adalah lapisan pemimpin. Karena, kalau pemimpinnya berubah, maka dia akan merubah, mempengaruhi dan mengajar kebawah sehingga akan menjadi panutan. Oleh sebab itu target pertama saya kejar adalah pemimpin atau orang-orang yang punya pengaruh di Indonesia.

Lapis kedua saya ambil calon pemimpin yaitu mahasiswa. Sehingga apabila di lapis pertama gagal di tahun 2020 maka harapan saya di tahun 2030 generasi baru tercipta. Contohnya, kami masuk ke Akademi Kepolisian (Akpol), mendidik calon Jaksa dan calon hakim dengan harapan ketika mereka menjadi penguasa sudah punya mindset yang lebih baik. Generasi berikutnya saya masuk ke teen and kid, dimulai dari anak-anak kelas 3 SD sampai SMA itu kami latih dengan tujuan kalau dilapisan kedua gagal juga, maka di tahun 2040 masih punya harapan.

Terakhir, saya masuk ke level ibu-ibu, yaitu keluarga, ibu hamil atau yang punya anak kecil kami didik bagaimana agar memiliki ilmu ESQ untuk membangun anak-anak mereka sendiri. Kemampuan ini kami sebut dengan spiritual parenting.

Tokoh penting mana saja kah yang telah mengikuti ESQ ini?

Banyak tokoh penting yang sudah menjadi alumni ESQ, antara lain yang baru kemarin hadir adalah Pangkostrad Letjen TNI A.Y. Nasution. Beliau ini telah menjadi penceramah juga kepada anak buahnya, mendidik terus dan menerapkannya. Sehingga merubah kultur dan budaya yang lebih baik.

Selain itu juga ada Kapolri Timur Pradopo dan Wakapolri Nanan Soekarno, yang integritasnya bisa di acungkan jempol. Selain itu masih banyak lagi tokoh-tokoh penting yang kami training. Saat ini saja ada sekitar 50 calon perwira tinggi yang sedang melanjutkan pendidikan Sekolah Staf Perwira Tinggi (Sespati) mengikuti training ESQ selama tiga hari. Mereka masuk kesini karena leadership dari pemimpinnya yang dulu pernah mengikuti training ESQ.

Apakah mahal untuk mengikuti training ESQ?

Alumni ESQ itu jumlahnya hampir 1,2 juta orang dengan sekitar 400 ribu telah mengikuti training secara gratis, diantaranya 150 ribu guru, ustadz, dhuafa dan fakir miskin. Tapi sebagian lagi harus bayar, karena kami harus menghidupi sejumlah karyawan yang berjumlah 450 orang. Dengan cara seperti ini, maka ESQ bisa berjalan hingga 11 tahun ini.

Kabarnya Emotional & Spiritual Quotient Leadership Center (ESQ LC) mengajarkan ukhuwah dengan menggunakan metode yang sangat baru dengan memanfaatkan teknologi. Seperti apa kongkritnya?
Dalam memberikan training kami didukung oleh multimedia modern yang dapat dirasakan langsung oleh peserta, baik itu dari visual maupun audionya. Contohnya, saat kami menceritakan tentang penciptaan alam semesta yang terkandung dalam surat Al-Anbiya ayat 30, agar dipahami oleh peserta kami tidak hanya cerita tetapi kami bikin dengan sound system 25.000 watt, layar 4×6 meter dengan ruangan yang tinggi langit-langitnya 12 meter.

Visual dan audio kami padukan hingga tercipta suasana yang seolah-olah kita benar-benar ada pada saat itu diciptakan, seperti tampilan video bagaimana bumi itu dibuat yang didukung dentuman suara sound. Sehingga ketika ayat itu dimunculkan, peserta tidak hanya mengetahui tetapi juga dapat merasakan kedasyatannya.

Sejauh mana ESQ memanfaatkan teknologi, mengingat saat ini semua hal sepertinya dapat diselesaikan dengan mudah dengan bantuan teknologi?

Seperti saya sebutkan diatas, sebetulnya bukan hanya berbicara alam semesta saja tetapi juga dari sisi phycometric yang berkaitan dengan psikologi seseorang, kami pakai teknologi. Berupa alat ukur yang secara psikologi ini bekerjasama dengan sebuah lembaga dari Amerika, yaitu Barrett Value Centre. Jadi semua perilaku seseorang maupun sebuah lembaga bisa diukur dengan teknologi secara matematis. Artinya, saat berbicara tentang sebuah ayat kami pelajari sampai dalam, sedangkan tentang akhlak atau leadership bisa kita ukur berapa nilainya. Sehingga kami bisa memahami tentang kebenaran sebuah ayat secara ilmiah.

Dengan cara ini kami bisa bersaing dengan lembaga asing dan dikenal sampai keluar negeri. Jadi ketika kita berbicara tentang ilmu leadership dan managemen mempergunakan Al-Quran, tapi saya gunakan dengan hitung-hitungan ilmiah yang tidak bisa ditolak dan tak terbantah. Kami bisa mengukur sebuah akhlak negara, bangsa dan orang dengan metode yang ilmiah. Dan kita satu-satunya yang mendapat sertifikasi di Indonesia.

Lalu, bagaimana pendapat Anda mengenai perkembangan teknologi informasi (TI) di Indonesia saat ini ?

Saya melihat saat ini perkembangan TI tidak dibarengi dengan pembangunan mental spiritual. Bisa dilihat, dulu yang paling banyak mendownload pornografi itu China, lalu Turki, baru Indonesia. Tetapi sekarang sudah terbalik, justru Indonesia yang paling banyak. Kalau hal ini terus dibiarkan, kita bisa kehilangan jati diri bangsa, kehilangan nurani dan agamanya. Oleh sebab itu ESQ terus fight memberikan training dan memiliki program khusus yang targetnya adalah mendidik secara gratis bagi satu juta guru secara nasional.

Apakah ESQ memiliki website?

Ya, dengan alamat http://www.esqway165.com. Kalau orang mau tahu tentang kami bisa masuk kesini. Tetapi, kalau training melalui website atau buku yang sudah saya luncurkan, sifatnya hanya pengetahuan karena tidak bisa merasakan. Sama saja kalau kita membaca tentang durian di suatu website, maka hanya tahu unsur kimia dari durian saja, tetapi rasanya kita tidak tahu. Untuk masuk dimensi rasa itulah perlunya training ESQ dimana tatap muka dilakukan.

Bagaimana posisi ESQ di dunia ilmu pengetahuan berkaitan rencana mendirikan kampus ESQ?
ESQ memang merupakan posisi baru yang nama mata pelajarannya adalah caracter building. Tetapi dengan adanya pengakuan secara akademis melalui penganugerahan gelar Doctor Honoris Causa oleh Universitas Negeri Yogyakarta kepada ESQ, maka ESQ diakui sebagai bagian dari kegiatan ilmiah akademis yang kemudian kita juga menjadikan karakter itu adalah bagian dari mata kuliah baru.

Apakah sudah ada penelitian lebih lanjut yang membuktikan bahwa ESQ layak menjadi materi kurikulum formil?

Sebenarnya itu sudah ada, ilmu-ilmu seperti ini sudah menjadi mata kuliah yang namanya ilmu leadership atau kepemimpinan. ESQ ini masuknya dibagian leadership-nya, bagian dari pembentukan kepemimpinan akan tetapi kepemimpinan itu hanya berhasil kalau dia punya karakter.

Kalau pemimpin tanpa karakter ini berbahaya, sehingga ESQ masuk ke pembentukan pemimpin dan karakter manusia. Research juga sudah dilakukan oleh seorang tokoh psikolog kontemporer, Daniel Goleman, bahwa orang-orang sukses di seluruh dunia yang namanya intelektual itu hanya berperan 10-20 persen saja dan dunia pendidikan pun sudah mengakui karakter itu kunci dari keberhasilan.

Mudah-mudahan, ESQ Business School ini bisa menghasilkan sarjana dan ahli wiraswasta yang berkarakter dan yang bernurani, tapi juga bertakwa. Untuk mencapai itu, saat ini kami bekerjasama dengan salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia, yaitu ITB.

Apa kesan dan harapan di tahun 2012?

Pada akhir tahun 2011, Menteri Pertahanan Malaysia, Dato Seri Dr Ahmad Zahid Hamidi bersama istri dan tiga anaknya datang dari Malaysia ke Menara 165 khusus untuk mengikuti training ESQ. Beliau berjanji akan memberikan training ESQ bagi 500 ribu rakyat Malaysia.

Pada saat yang hampir bersamaan, ESQ juga dipercaya perusahaan otomotif kelas dunia dari Malaysia, Proton, untuk pembangunan corporate culture-nya. Sebagai putra bangsa Indonesia, saya berharap suatu saat metode ESQ yang sudah saya dalami selama 11 tahun ini dimanfaatkan secara luas dan kompresif untuk membangun karakter individu, budaya organisasi, dan karakter bangsa Indonesia.

Semoga Allah menerima dan meridhai kontribusi kecil ESQ ini untuk bangsa Indonesia yang kami cintai sebagai ladang amal shaleh di akhirat kelak.

Sumber: Majalah Biskom edisi April 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s