Ary Ginanjar Agustian di Dewan Pertimbangan Presiden (WANTIMPRES)

http://www.indonesia.go.id/en/component/content/article/3031-wantimpres/12398-penguatan-akhlak-bangsa

Penguatan Akhlak Bangsa
WEDNESDAY, 03 APRIL 2013

Proses modernisasi dan globalisasi yang juga terjadi di Indonesia, di samping membawa kemajuan juga membawa tantangan bagi eksistensi akhlak dan karakter bangsa, karena dalam proses modernisasi dan globalisasi ini nilai-nilai yang datang dari luar berpengaruh terhadap nilai-nilai bangsa. Di samping dampak positif, proses ini juga membawa dampak negatif. Ekses negatif ini dapat menghasilkan sikap dan tindakan yang tak terpuji, seperti korupsi, manipulasi, pemerasan, kekerasan, pemerkosaan, amuk massa, perkelahian, konflik antar kelompok, rendahnya sikap tanggung jawab, mengendurnya solidaritas sosial, pornografi, pergaulan bebas, narkoba, dan sebagainya. Upaya-upaya untuk membangun akhlak bangsa sebenarnya sudah dilakukan, baik melalui pendidikan sekolah maupun di luar sekolah serta perangkat aturan yang memasukkan pentingnya kode etik di dalamnya.

Dalam rangka penggalian informasi atas langkah-langkah yang dilakukan dalam membangun dan menguatkan akhlak bangsa, Dr. K. H. Ma’ruf Amin, Anggota Wantimpres Bidang Hubungan Antar Agama, mengadakan Pertemuan Terbatas mengenai Penguatan Akhlak Bangsa pada Kamis (07/02) dengan narasumber: Prof. Dr. Agus Sartono (Deputi Menkokesra Bidang Pendidikan dan Agama), Dr. Ary Ginanjar Agustian (ESQ Leadership Center), dan Mario Teguh (Senior Consultan/CEO Bussiness Effectiveness Consultant).

Prof. Dr. Agus Sartono menyatakan bahwa Indonesia memiliki momentum yang sangat penting di tahun 2010-2030 dimana dependency rasio(beban usia produktif) semakin kecil. Masa tersebut akan menjadi era keemasan bagi anak-anak yang saat ini duduk di bangku SMA dan pendidikan tinggi. Oleh karena itu, harus dipastikan bahwa anak-anak tersebut dibekali ilmu dan karakter/akhlak yang baik. Strategi membangun karakter dilakukan melalui pendidikan karakter yang mulai diberikan pada pendidikan usia dini. Karakter dapat terbentuk dengan melatih kebiasaan kebiasaan posistif, bertutur kata positif, dan hal lain yang positif.

Dr. Ary Ginanjar Agustian menyampaikan bahwa ada keterbelahan atau split personality di masyarakat. Saat ini ritual agama meningkat tetapi meningkat pula permasalahan sosial yang ada. Penyebabnya adalah terlalu menekankan pada kecerdasan intelektual tanpa mendidik kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosional. Kecerdasan spiritual sudah diajarkan setiap hari oleh kalangan agama tetapi terpisah dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu terjadi split personalityantara kecerdasan intelektual dengan kecerdasan spiritual dan emosional. Kuncinya adalah penggabungan ketiga kecerdasan tersebut dengan menyinergikan dan menghilangkan orientasi material. Dari ketiga hal tersebut, spiritualitas sebagai inti (center) dari kecerdasan.

Sedangkan Mario Teguh menyatakan bahwa konsep moral tidak bisa hanya dihimbaukan tetapi dipimpinkan. Oleh karena itu, konsep amar ma’ruf nahi mungkar tidak untuk orang lemah, tapi untuk orang kuat yang bisa mengharuskan kebaikan. Sehingga harus ada orang yang sangat kuat untuk mengatakan “baik ya!” atau “jangan ya!” dengan kekuatan yang besar, yang dapat dimulai dengan sesuatu yang sederhana.(Dian)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s